Rabu, 04 Februari 2015

Ibuk


Selamat pagi, Buk? Bagaimana pagimu?
Apakah badanmu masih pegal-pegal setelah kemarin malam merawatku? Maafkan aku yang hanya berani menanyakannya lewat surat ini padahal jelas-jelas kita satu atap dan selalu bertatap.

Buk, terima kasih karena telah merawatku dengan sabar dan maafkan aku karena setiap pulang dari perantauan aku selalu merepotkanmu. Sekarang aku merasa lebih baik, meski masih sedikit panas setidaknya tidak lagi tiga puluh sembilan derajat celcius, itu karena Ibuk, Penyelamatku.

Buk, setelah 6 bulan kita tak bertemu, Ibuk masih tak berubah ya, masih seperti biasanya Ibuk selalu menggosok punggungku dengan balsem dengan alasan “Ben angine keluar, Nduk”. Entah itu teori dari dokter, habib atau mantri dari mana yang jelas hingga detik inipun aku selalu merasa lebih baik jika punggungku sudah Ibuk gosok dengan balsem. Terima kasih juga telah sabar memijat kepalaku yang ketika itu rasanya seperti akan pecah. Aku tak tau jika tak ada Ibuk aku akan jadi seperti apa. Oh iya, selain tak pernah absen menggosok punggungku Ibuk juga tak pernah absen membuatkanku segelas teh hangat ketika tak sehat. Dan lagi-lagi Ibuk beralasan “Ben perute anget, Nduk”. Buk, Ibuk tentu tau kalau anak wedokmu ini tidak membutuhkan yang lain kecuali Ibuk. Ibuk, sekali lagi terima kasih banyak, maafkan aku telah menyita malam yang seharusnya Ibuk gunakan untuk beristirahat setelah seharian Ibuk habiskan untuk mendidik beratus-ratus anak orang, sungguhlah Ibuk pahlawan tanpa tanda jasa yang benar-benar hebat.

Buk, tak terasa pagi ini aku harus kembali ke perantauan. Doakan anak terakhirmu yang masih manja ini untuk kembali hidup mandiri dan kembali berjuang untuk masa depan ya. Meski harus berpisah beratus-ratus kilometer tapi percayalah cinta dan sayangku akan selalu terus-menerus. Maafkan aku ya Buk selama dirumah jarang atau bahkan tak pernah membantumu di dapur. Hehe aku benar-benar bermuka badak ya, Buk? Hehehe I Love You.

Ibuk, ini dulu ya suratku. Nanti besok aku kirim lagi, jangan bosan membaca surat tak bermutu dari anak wedokmu ini yaa. Sekali lagi terimakasih, maaf, dan I love You, Ibukku.

Dari darah dagingmu,
Devina.

0 comments:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

add me, and we are a friend..

daily calendar..

Followers

like this site ?

dhephudevina.hakcipta.com. Diberdayakan oleh Blogger.

kotak obrolan,,