Sabtu, 23 April 2016
Aku menyesal sebab aku pernah berusaha mengembalikan semuanya, berulang
kali.
Jika hanya aku yang berjuang,
Jika hanya aku yang mati-matian,
Jika hanya aku yang mengharapkan,
Kau kemanakan kebersamaan yang selalu kau ucapkan?
Kenapa? Salah aku lagi?
Salah jika aku tak lagi nyaman denganmu?
Lalu bagaimana dengan kesibukanmu?
Kau kemanakan aku ketika kita sedang bersama? Bukankah kau terlalu asik
dengan ponselmu? Dengan semua obrolan disana?
Sampai kapan kau akan sadar jika bukan kepergianku yang menyadarkan
Jika bukan aku yang datang, apakah kau yakin kau akan bisa
mengembalikan keadaan? Coba hitung berapa kali aku berusaha bersamamu lagi? Berapa
kali aku datang, untukmu, berusaha mengembalikan keadaan?
Masih tak tergerakkah nuranimu? Kau kemanakan hati dan otakmu itu? Haruskah
aku yang mencarikannya untukmu?
Selasa, 07 April 2015
Entri untuk mengisi
Untukmu, aku mengaku aku rapuh. Tapi
untukmu juga aku akan membodohi diri sendiri jika harus terus-menerus menangis dan
bahkan memohon semuanya kembali.
Semua orang tahu jika gelas yang
pecah tidak akan pernah bisa dirangkai menjadi sempurna kembali, begitupun
hati. Terlalu dini jika aku berkata hati, cinta, rasa dan bahkan kasih sayang. Lupakan
tentang hati, maaf jika selama ini aku terlalu menggurui.
Terimakasih sempat mengisi untuk
kemudian pergi, terimakasih telah mengajakku berlari untuk kemudian kau tinggal
sendiri. Aku lelah jika harus bangkit kemudian kau jatuhkan, bangkit lagi kau
jatuhkan lagi, begitu sampai badak kulitnya menjadi iritasi karena matahari. Terimakasih
pernah kembali dan kemudian pergi lagi. Terimakasih pernah menerbangkan untuk
kemudian kau jatuhkan dalam-dalam.
Jadi begini rasanya dicintai kamu
yang pernah lari dari seseorang? Harusnya aku sadar dari awal, harusnya aku
paham keadaan, harusnya aku peka terhadap keadaan. Harusnya dan beribu-ribu
seharusnyaa. Tidak akan berguna jika terus-terusan menyesal. Karena yang pergi tidak akan pernah sama lagi, begitu?
Jadi begini, maafkan aku jika aku
tidak pernah merubah sikap kepada lawan jenis. Aku mengerti jika ternyata kamu
tersakiti. Aku tidak akan memintamu untuk mengerti, karena aku sadar itu
permintaan yang terlalu besar. Tenang saja, tidak akan ada lagi kejadian
seperti ini. Kamu tidak perlu menjauh karena aku yang akan berjalan mundur. Bersenang-senanglah
disana, ditempatmu, doakan aku ya agar bisa secepat kilat melupakanmu. Hapus saja
semua memori yang akan mengingatkanmu kepadaku, oh tidak ada ya? Baguslah memang
seharusnya begitu. Hiduplah sesuai dengan ritme kehidupanmu dulu, iya dulu
sebelum akhirnya aku datang dan merusak kebiasaanmu. Tak usah kau suruh pergi,
aku cukup sadar diri untuk berlari menjauhi. Terimakasih telah mengisi ruang
hati, sampaikan salamku untuk hatimu yaa, maafkan aku untuk semua salah yang
telah aku perbuat. Maafkan aku hanya berani lewat tulisan ini.
Semoga kita lebih baik yaa
Rabu, 04 Februari 2015
Ibuk
Selamat pagi, Buk? Bagaimana pagimu?
Apakah badanmu masih pegal-pegal
setelah kemarin malam merawatku? Maafkan aku yang hanya berani menanyakannya
lewat surat ini padahal jelas-jelas kita satu atap dan selalu bertatap.
Buk, terima kasih karena telah merawatku
dengan sabar dan maafkan aku karena setiap pulang dari perantauan aku selalu
merepotkanmu. Sekarang aku merasa lebih baik, meski masih sedikit panas
setidaknya tidak lagi tiga puluh sembilan derajat celcius, itu karena Ibuk,
Penyelamatku.
Buk, setelah 6 bulan kita tak bertemu, Ibuk masih tak berubah ya, masih seperti
biasanya Ibuk selalu menggosok
punggungku dengan balsem dengan alasan “Ben
angine keluar, Nduk”. Entah itu teori dari dokter, habib atau mantri dari
mana yang jelas hingga detik inipun aku selalu merasa lebih baik jika
punggungku sudah Ibuk gosok dengan
balsem. Terima kasih juga telah sabar memijat kepalaku yang ketika itu rasanya
seperti akan pecah. Aku tak tau jika tak ada Ibuk aku akan jadi seperti apa. Oh iya, selain tak pernah absen
menggosok punggungku Ibuk juga tak
pernah absen membuatkanku segelas teh hangat ketika tak sehat. Dan lagi-lagi Ibuk beralasan “Ben perute anget, Nduk”. Buk,
Ibuk tentu tau kalau anak wedokmu
ini tidak membutuhkan yang lain kecuali Ibuk.
Ibuk, sekali lagi terima kasih
banyak, maafkan aku telah menyita malam yang seharusnya Ibuk gunakan untuk beristirahat setelah seharian Ibuk habiskan untuk mendidik
beratus-ratus anak orang, sungguhlah Ibuk
pahlawan tanpa tanda jasa yang benar-benar hebat.
Buk, tak terasa pagi ini aku harus
kembali ke perantauan. Doakan anak terakhirmu yang masih manja ini untuk
kembali hidup mandiri dan kembali berjuang untuk masa depan ya. Meski harus
berpisah beratus-ratus kilometer tapi percayalah cinta dan sayangku akan selalu
terus-menerus. Maafkan aku ya Buk
selama dirumah jarang atau bahkan tak pernah membantumu di dapur. Hehe aku
benar-benar bermuka badak ya, Buk? Hehehe I Love You.
Ibuk, ini dulu ya suratku. Nanti besok
aku kirim lagi, jangan bosan membaca surat tak bermutu dari anak wedokmu ini yaa. Sekali lagi
terimakasih, maaf, dan I love You, Ibukku.
Dari darah
dagingmu,
Devina.
Selasa, 03 Februari 2015
Hujan
Kepada Hujan, yang kepadanya aku
bisa mencurahkan.
Entah sudah berapa ribu detik yang ku habiskan hanya dengan memandang
air yang jatuhnya memberondong bumi.
Entah sudah berapa ratus kali aku bersyukur kepada pencipta air yang
kini sedang aku pandangi.
Dan entah sudah berapa puluh kali aku hanya bisa mengusap air yang
menempel pada pipi.
Aku selalu menunggu datangnya hujan, terlebih
ketika aku sedang dirundung kesedihan. Agar kepadanya aku bisa melepaskan, atau
bahkan mencurahkan segala penat dan segala isi hati yang kotor. Aku menikmati
setiap tetes air hujan hingga tak jarang membuatku hanyut dalam kenangan.
Ironis memang. Tapi kenyataan.
Ada sendu yang mengganggu, ada rindu yang menggebu,
dan ada rasa yang kini layu; Kamu. Pahit rasanya jika harus mengingat aku tak
lagi milikmu, atau kau tak lagi milikku? Lupakan, aku enggan membahasnya
kembali.
Kamu, masih mengangakah lukamu dulu? Atau sudah
terlalu kering hingga kini kau dengan yang lain? Berhuruf depan D lagi ya, kebetulan sekali. Aku mengaku salah telah
meninggalkanmu. Astaga! Bukannya tak penting lagi jika aku menyesal? Maafkan
aku yang hingga detik ini aku masih menyesalkan apa yang telah aku lakukan. Dan
kini aku mengaku kalah, aku merindukanmu. Kau ingin menertawakanku? Tertawalah
sepuasmu. Atau bahkan kau ingin mengasihaniku? Aku rasa tidak perlu, jangan
membuang tenagamu. Tenang saja, dengan aku yang kini sendiri aku akan
membuktikan bahwa aku mampu berdiri. Aku akan lebih mencintai diriku hingga
nantinya tak ada lagi air hujan yang disebabkan oleh mataku.
Aku rasa cukup karena hujan telah meninggalkanku. Terimakasih kau sudah menyempatkan untuk datang. Sampaikan salamku kepadanya ya, aku merindukannya walaupun aku sudah terbiasa berdiri tanpanya.
Devina.
Rabu, 11 September 2013
everything
Di dunia aku tidak bisa dengan tepat memilih kata
cinta ku untukmu hampir meluap dan terus bertambah
aku tidak bisa menilai dengan perhitungan duniawi
cinta sejatiku tumbuh lebih dalam
tidak seorangpun yang dapat membuatku tertawa dan menangis sepertimu
aku hanya ingin melihatmu dan hanya mendengarmu
aku ingin membiarkan kamu hidup bersamaku
lihatlah aku
datanglah kepadaku, kau adalah segalanya
segalanya untukku
kau adalah segalanya untukku
cinta ini untukmu
aku tak bisa mencarimu setiap saat
hatiku lebih bahagia bila aku hilang dalam cintamu
tidak ada kadaluarsa untuk cintaku kepadamu
jika pun ada, itu pasti 10000 tahun
hanya kamu pemilik hatiku
kau adalah yang pertama dan yang terakhir yang aku pikirkan
di setiap nafasku, aku akan memanggil namamu
kau adalah segalanya
segalanya untukku
kau adalah segalanya untukku
aku mencintaimu, mencintaimu
WILDAN PRASETYO USMAN<3
cinta ku untukmu hampir meluap dan terus bertambah
aku tidak bisa menilai dengan perhitungan duniawi
cinta sejatiku tumbuh lebih dalam
tidak seorangpun yang dapat membuatku tertawa dan menangis sepertimu
aku hanya ingin melihatmu dan hanya mendengarmu
aku ingin membiarkan kamu hidup bersamaku
lihatlah aku
datanglah kepadaku, kau adalah segalanya
segalanya untukku
kau adalah segalanya untukku
cinta ini untukmu
aku tak bisa mencarimu setiap saat
hatiku lebih bahagia bila aku hilang dalam cintamu
tidak ada kadaluarsa untuk cintaku kepadamu
jika pun ada, itu pasti 10000 tahun
hanya kamu pemilik hatiku
kau adalah yang pertama dan yang terakhir yang aku pikirkan
di setiap nafasku, aku akan memanggil namamu
kau adalah segalanya
segalanya untukku
kau adalah segalanya untukku
aku mencintaimu, mencintaimu
WILDAN PRASETYO USMAN<3
Langganan:
Postingan (Atom)
